Arsip Tag: Jepang

Liburan Ke Osaka, Jepang? Ini Tempat Yang Wajib Di Kunjungi

JOURNALPOS – Selain Tokyo yang punya destinasi wisata di Jepang yang sangat menarik, Anda juga wajib untuk mengunjungi Osaka.

Osaka adalah salah satu kota di Jepang yang terbesar dan termegah selain Tokyo dan telah dikenal sebagai salah satu kawasan metropolitan yang terbesar di dunia.

Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa kota ini adalah sebuah kota di Jepang yang cocok dijadikan destinasi wisata pilihan Anda.

Lalu apa saja yang bisa Anda lakukan saat berkunjung ke kota ini? Anda bisa mengunjungi beberapa tempat wisata di Osaka, mulai dari tempat wisata budaya tradisional yang sangat kental dari negeri sakura hingga ke tempat wisata yang sangat modern.

Osaka Aquarium Kaiyukan


Jika Anda ingin mengunjungi Tempozan Farris Wheel, maka ada baiknya untuk menyempatkan diri juga untuk mampir ke Osaka Aquarium Kaiyukan.

Tempat ini adalah destinasi wisata yang memungkinkan Anda melihat banyak spesies ikan yang dipamerkan dalam akuarium dengan ukuran yang besar.

Di tempat wisata di Osaka yang satu ini terdapat sekitar 15 tangki besar yang menampilkan berbagai kehidupan laut serta segala jenis spesies ikan yang ada di dalamnya.

Karena itu, tempat ini juga merupakan tempat yang sangat edukatif dan sangat menarik untuk dikunjungi oleh keluarga dengan anak kecil karena di sini mereka bisa mengenal banyak jenis ikan.

Nakanoshima Park


Sebagai salah satu kota metropolitan yang memiliki banyak penduduk dan dipenuhi dengan banyak sekali bangunan super modern, Osaka tidak melupakan ruang hijau untuk penduduknya.

Ada satu ruang hijau atau taman di tengah kota yang cukup terkenal di Osaka, yaitu Nakanoshima Park yang merupakan taman indah di tengah kota Osaka yang megah.

Perpaduan antara rumput hijau yang halus dan bersih serta bunga yang sangat beraneka ragam warnanya membuat Nakanoshima Park menjadi salah satu taman tengah kota yang paling cantik.

Taman kota yang satu ini adalah tempat yang sangat sering digunakan sebagai salah satu tempat piknik atau bersantai.

Minami (Namba)


Saat berkunjung ke Jepang memang tidak akan lengkap jika Anda tidak melakukan wisata kuliner atau mencari barang khas negeri matahari terbit ini. Minami (Namba) merupakan salah satu kawasan wisata belanja dan juga kuliner yang sangat terkenal di Osaka.

Anda harus memasukkan tempat wisata di Osaka ini pada daftar destinasi wisata yang akan Anda kunjungi karena hampir semua wisatawan yang datang ke Jepang pasti akan mengunjungi tempat wisata yang satu ini untuk berwisata kuliner.

Di sini terdapat banyak jajanan kaki lima hingga restoran yang mana menunya sangat bervariasi mulai dari yang murah hingga mahal. Namba adalah kawasan yang tidak pernah sepi pengunjung baik siang maupun malam hari.

Amerikamura


Mungkin Anda sering mendengar istilah “Chinatown” di beberapa negara seperti Singapore, Malaysia, atau Indonesia? Ya, Chinatown adalah salah satu kawasan pecinan yang mana mayoritas dihuni oleh warga keturunan Tionghoa.

Osaka tidak memiliki Chinatown yang dihuni oleh warga keturunan Tionghoa, tetapi di sana ada kawasan yang banyak sekali ditinggali oleh masyarakat dari Amerika.

Nama kawasan ini sendiri cukup unik, yaitu Amerikamura. Di kawasan ini, Anda akan menjumpai banyak butik dan juga restoran yang sangat khas negeri paman sam.

Amerikamura adalah salah satu tempat wisata di Osaka yang sangat menarik dan wajib Anda kunjungi karena tak akan bisa Anda jumpai di tempat lain.***

Ini Alasannya Kenapa Orang Jepang Jarang Yang Mau Menikah

Ini Alasannya Kenapa Orang Jepang Jarang Yang Mau Menikah

JOURNALPOS – Jepang sebagai negara maju memiliki masalah kekurangan penduduk dikarenakan banyak orang yang tidak mau menikah apalagi punya anak.

Bahkan angka kematian di jepang sangat tinggi, rata-rata pri 82 tahun wanita 86 tahun. Namun apakah alasan orang jepang tidak mau nikah? Apa karena sek bebas tidak dilarang di Negara tersebut, berikut penuturannya.

Beberapa waktu yang lalu sebuah perusahaan Jepang yang merupakan bagian dari Rakuten Team melaksanakan survey kepada laki-laki dan perempuan lajang usia 25-39 tentang keinginan mereka untuk menikah.

Pada pertanyaan kenapa mereka tidak menikah, jawaban yang paling umum dari laki-laki dan perempuan adalah karena mereka tidak memiliki kesempatan bertemu dengan lawan jenis.

Wah, ternyata mencari pasangan hidup di Jepang susah, mungkin karena setelah lulus kuliah dan memasuki dunia kerja, waktu mereka habis untuk bekerja.

Alasan Jarang Menikah
Bahkan beberapa orang Jepang menganggap kerja adalah tujuan hidup sehingga banyak yang menjadi workaholics.

Tetapi setelah beberapa saat tinggal di Jepang memang benar, hidup mereka hanya untuk kerja jadi wajar sulit memperoleh jodoh.

Alasan paling banyak kedua untuk responden laki-laki adalah karena mereka khawatir dengan kondisi ekonomi dan situasi pekerjaan mereka.

Sedangkan alasan yang dikemukakan oleh wanita Jepang adalah karena mereka khawatir atau merasa tidak bisa jatuh cinta serta khawatir kebebasan mereka hilang setelah menikah.

Sekitar 29% responden laki-laki memang fokus karena situasi keuangaan mereka saat itu belum cukup meyakinkan sedangkan 34% responden khawatir keuangan mereka tidak cukup untuk menganggung keluarga setelah menikah.

Lalu apakah hidup di Jepang perlu biaya tinggi?  Berapa pendapatan yang dianggap cukup untuk menanggung sebuah keluarga?

Berdasarkan survey tersebut, terungkap bahwa pendapatan yang diharapkan bisa mereka peroleh dan dianggap cukup untuk berkeluarga memang relatif sangat tinggi.

Para responden wanita melihat calon suami “prospektif” adalah ketika memiliki penghasilan rata-rata lebih dari 5,5 juta yen consistent with tahun atau sekitar 460 ribu yen consistent with bulan atau sekitar 46 juta rupiah consistent with bulan.

Sedangkan para pria menginginkan calon istri mereka bisa memperoleh penghasilan sekitar 1,35 juta yen consistent with tahun atau sekitar 112,5 ribu yen, yang berarti para pria tidak mengingingkan istri mereka bekerja penuh waktu.

Jadi alasan wanita untuk malas menikah memang memang sesuai karena mereka ingin memiliki karir di dunia kerja, tanpa pekerja penuh waktu, maka tidak ada karir bagi mereka. Jepang memang negeri dengan biaya hidup tinggi.

Pendapatan rata-rata keluarga di Jepang dengan suami-istri yang bekerja semua (usia 30-40 tahun) pada tahun 2013 adalah sekitar 5,45 juta yen consistent with tahun.  Angka tersebut adalah di bawah angka aman keuangan (financially safe ) untuk hidup berkeluarga di Jepang pada tahun 1985.

Faktor Ekonomi
Bahkan tahun 2014, pendapatan rata-rata keluarga di Jepang kembali turun menjadi 4,32 juta yen consistent with tahun atau sekitar 37, 5 juta rupiah consistent with bulan.

Wajar jika orang Jepang malas menikah.  Secara umum bisa kita hitung, gaji pertama sarjana di Jepang berkisar 200 ribu yen consistent with bulan atau sekitar 20 juta rupiah, untuk lulusan S2 sekitar 220 ribu dan S3 sekitar 300 ribu yen.

Untuk hidup sendiri, uang tersebut mungkin memang hanya sebatas cukup karena sewa apato/apartemen, listrik, web, biaya makan dan membeli minuman akan menghabiskan banyak porsi gaji. Belum lagi pajak, asuransi kesehatan, iuran pensiun yang juga tidak sedikit.

Untuk naik gaji juga tidak bisa dengan jalan demo atau mogok kerja, karena mencari pekerjaan tetap di Jepang bukan hal yang mudah. Bahkan PNS biasa di Jepang yang lulusan S1 dengan masa kerja lebih dari 10 tahun katanya gaji  hanya berkisar 300 ribu yen.

Mungkin untuk sekedar hidup berkeluarga gaji 300 ribu yen cukup, dengan catatan anak masih usia SD karena sekolah di Jepang free of charge.

Memasuki usia SMA, meski sekolah free of charge tetapi kegiatan tambahan seperti kursus olah raga atau seni yang biasanya diikuti relatif sangat mahal.

Belum lagi untuk meng-kuliahkan anak, perguruan tinggi negeri di Jepang memungut biaya kuliah yang hampir sama se-antero Jepang baik untuk S1, S2 maupun S3, yaitu sekitar 267.900 yen consistent with semester atau sekitar 28 juta rupiah.

Aset Bangsa
Jika penghasilan orang tua tidak besar, maka si anak harus kerja keras sendiri untuk mencari biaya kuliah dengan cara kerja part-time (arubaito) atau pinjam ke negara yang harus mereka bayar setelah nanti memperoleh pekerjaan tetap.

Kebijakan pemerintah Jepang di bawah kendali perdana menteri Shinzo Abe mengharapkan meningkatnya keinginan orang Jepang untuk menikah dan memiliki anak untuk menghindari krisis demografi yang semakin parah.

Kebijakan peningkatan gaji dan promosi pekerja wanita di Jepang bertujuan agar para wanita tidak perlu keluar kerja setelah menikah karena mereka dihargai “hampir” sama dengan para pekerja pria.

Selain itu, hak cuti melahirkan juga boleh diambil oleh pihak pria agar para wanita dengan karir bagus juga tidak keluar dari tempat mereka kerja dengan alasan merawat anak.

Toh setelah anak lebih dari 1 tahun bisa dimasukkan ke penitiapan anak meskipun biayanya mahal, namun dengan gaji wanita yang cukup tinggi masalah tersebut dapat terselesaikan. Pemerintah Jepang memang sangat khawatir kehilangan generasi karena berkurangnya jumlah kelahiran bayi setiap tahun.

Anak kecil di Jepang adalah aset bangsa yang harus dipelihara dan dididik dengan baik. Melihat cara pemerintah Jepang menjaga anak-anak memang sangat luar biasa bahkan cenderung memanjakan dengan cara yang benar.***