Arsip Tag: Takjil

Es Selendang Mayang Khas Betawi Ide Takjil Kekinian Penambah Energi di Sore Hari

Es Selendang Mayang Khas Betawi: Ide Takjil Kekinian Penambah Energi di Sore Hari

JOURNALPOS – Salah satu pilihan klasik yang tak pernah lekang oleh waktu adalah Es Selendang Mayang, khususnya untuk ide takjil di bulan Ramadan.

Minuman tradisional khas Betawi ini menawarkan kombinasi rasa manis, gurih, dan segar yang sempurna untuk membangkitkan semangat.

Selain menyegarkan, Es Selendang Mayang juga kaya akan karbohidrat dari bahan dasar tepung sagu, menjadikannya sumber energi yang baik untuk berbuka puasa.

Bagi Anda yang ingin mencoba membuatnya sendiri di rumah, berikut adalah resep Es Selendang Mayang yang bisa Anda ikuti:

Bahan-bahan Selendang Mayang:
– 100 gram tepung sagu aren
– 50 gram tepung hunkwe
– 1000 ml air
– Pewarna makanan merah dan hijau secukupnya
– Sejumput garam

Bahan-bahan Kuah Santan:
– 600 ml santan kental
– 1 lembar daun pandan, simpulkan
– Sejumput garam

Bahan-bahan Sirup Gula Merah:
– 250 gram gula merah, sisir halus
– 100 ml air
– 1 lembar daun pandan, simpulkan

Bahan Pelengkap:
– Es batu secukupnya

Cara Membuat:
1. Selendang Mayang: Campurkan tepung sagu, tepung hunkwe, air, dan garam dalam panci. Aduk rata hingga tidak ada gumpalan.

2. Masak adonan di atas api sedang sambil terus diaduk hingga mengental dan transparan. Bagi adonan menjadi tiga bagian.

3. Beri pewarna merah pada satu bagian, hijau pada bagian kedua, dan biarkan bagian ketiga tetap berwarna putih.

4. Siapkan loyang atau wadah datar. Tuang adonan berwarna merah, ratakan. Kemudian, tuang adonan berwarna putih di atasnya, ratakan kembali. Terakhir, tuang adonan berwarna hijau dan ratakan.

5. Dinginkan adonan hingga set. Setelah dingin, potong-potong selendang mayang berbentuk kotak atau sesuai selera.

6. Kuah Santan: Campurkan santan, daun pandan, dan garam dalam panci. Masak di atas api kecil sambil terus diaduk agar santan tidak pecah. Angkat dan dinginkan.

7. Sirup Gula Merah: Masak gula merah, air, dan daun pandan dalam panci di atas api kecil hingga gula larut dan mendidih. Saring dan dinginkan.

8. Penyajian: Tata potongan selendang mayang dalam gelas. Tambahkan es batu, siram dengan kuah santan dan sirup gula merah. Sajikan segera.

Tips Tambahan:
– Untuk rasa yang lebih segar, Anda bisa menambahkan sedikit air perasan jeruk nipis ke dalam kuah santan atau sirup gula merah.
– Pastikan adonan selendang mayang benar-benar matang agar teksturnya kenyal dan tidak mudah hancur.
– Jika Anda tidak memiliki tepung hunkwe, bisa diganti dengan tepung maizena.
– Untuk mempercantik tampilan, Anda bisa menambahkan potongan buah nangka atau kolang-kaling.

Dengan resep yang mudah dan bahan-bahan yang mudah didapatkan, Anda bisa dengan mudah membuat Es Selendang Mayang sendiri di rumah. Sajikan sebagai takjil saat berbuka puasa untuk menghilangkan dahaga dan mengembalikan energi.***

Bubur Samin, Takjil Incaran Warga Solo

JOURNALPOS – Bubur Samin adalah sajian kuliner khas Kota Solo. Setiap Ramadan, bubur ini menjadi takji incaran warga Solo dan sekitarnya.

Uniknya, bubur samin sebenarnya bukan asli Solo. Lantas, bagaimana sejarahnya bubur samin menjadi makanan khas Solo?

Mengutip situs Pemkot Solo, bubur samin biasa dibagikan secara gratis oleh takmir Masjid Darussalam, Jayengan, Serengan, Solo Jawa Tengah. Bubur samin sendiri terbuat dari beras, rempah, sayuran, dan daging sapi yang menghasilkan cita rasa gurih.

Bubur samin menjadi makin istimewa karena dimasak dengan resep khusus, yaitu minyak samin dengan ciri khas warna kekuningan.

Dalam sehari, bubur samin membutuhkan sekitar 45-50 kg beras untuk ratusan porsi. Proses pembuatan bubur ini dalam jumlah banyak membutuhkan tenaga dari beberapa pria dewasa. Hal ini dikarenakan adonan bubur harus terus diaduk agar tidak sampai mengendap di panci.

Adapun pembuatan bubur ini dimulai sejak pagi dengan meracik bumbu-bumbu yang digunakan. Lalu, mulai diolah juru masak andalan masjid sekitar pukul 11.30 hingga 15.00.

Penikmat bubur samin ternyata tidak hanya dari Kota Solo, melainkan warga Soloraya, seperti Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, hingga Klaten.

Dilansir dari Antara, warga biasanya berdiri berjajar hingga di luar halaman sambil menenteng tempat makan untuk mewadahi bubur samin. Pada Ramadan tahun ini, tradisi pembagian bubur samin kembali dilaksanakan setelah absen selama dua tahun karena pandemi COVID-19

Sejarah bubur samin: dimulai oleh perantau
Mengutip Antara, tradisi pembagian bubur samin pada bulan Ramadan dimulai oleh para perantau asal Banjar, Kalimantan Selatan, di wilayah Solo sekitar 1980.

Para perantau Banjar yang tinggal di daerah Jayengan membangun langgar yang kemudian menjadi Masjid Darussalam. Kerinduan terhadap kampung halaman mendorong para perantau dari Banjar untuk membuat bubur samin bersama guna memperkuat tali persaudaraan masyarakat Banjar di perantauan.

Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi pembagian bubur samin gratis kepada warga sekitar di bulan Ramadan. Warga dari daerah lain pun menjadi penasaran dan ingin mencicipi bubur khas Banjar yang beraroma sedap itu.

Tradisi pembagian bubur pun tetap dipertahankan setelah warga asal Banjar di Solo mulai berpencar untuk mencari rezeki ke daerah sekitar, seperti Karanganyar, Sragen, Boyolali, Sukoharjo, dan Semarang.

Kalaupun tidak bisa selalu ikut masak atau mencici bubur samin secara langsung, perantau asal Banjar maupun keturunannya akan menyumbangkan dana untuk kegiatan pembagian bubur samin di Masjid Darussalam.

Nurcholis, Takmir Masjid Darussalam pun berharap tradisi pembagian bubur samin asal Banjar ini bisa lestari. Terlebih, sekarang tradisi itu sudah menjadi salah satu daya tarik pada bulan Ramadan. “Kami hanya ingin berbagi dengan masyarakat,” kata Nurcholis, seperti dikutip dari Antara.

Kini tradisi  pembagian bubur samin bukan hanya menjadi pengobat rindu para perantau terhadap kampung halaman saat Ramadhan, tetapi juga menjadi simbol toleransi antarumat beragama dan ajang berbagi dengan warga sekitar.**