Anggaran Pendidikan yang Meningkat Setiap Tahun Perlu Diikuti Program Kerja Efektif


JAKARTA,
– Keputusan pemerintah untuk menambah besaran anggaran pendidikan sebesar 5,66 persen menjadi Rp595,5 triliun pada tahun 2023 perlu diikuti program kerja yang tepat sasaran.  Hal ini mutlak dilakukan untuk mengatasi permasalahan pendidikan, terutama permasalahan yang muncul karena pandemi covid-19.

“Proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang muncul sebagai respons pandemi memperlihatkan sejumlah masalah yang harus dibenahi, misalnya saja masih belum memadainya kualitas para guru, terutama dalam mengadaptasi perubahan metode pembelajaran akibat pandemi,” jelas Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza.

Penelitian CIPS memperlihatkan, kemampuan guru menyesuaikan diri dengan metode pembelajaran yang berbeda, dalam hal ini pembelajaran jarak jauh, masih menjadi salah satu tantangan utama. Tantangan ini juga bersumber dari terbatasnya akses internet dan gawai pintar di kalangan guru dan siswa.

Meningkatkan kualitas guru dalam mendukung pelaksanaan PJJ bukan hal yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Mereka memerlukan pelatihan ekstensif dan intensif agar dapat menyelenggarakan PJJ dengan optimal.

Pelatihan yang fleksibel dan dapat mengakomodir lanskap pendidikan di Tanah Air bisa menjadi pilihan.  Disrupsi di sektor pendidikan juga membutuhkan solusi dan tindak lanjut yang cepat dari guru dan sekolah.

Pelatihan diharapkan juga membangun kapasitas para guru dalam menggunakan otonomi yang lebih besar (greater autonomy) untuk merespons dampak dari bencana terhadap satuan pendidikan yang mereka tangani.

Nadia mengatakan, peningkatan kualitas guru juga dibutuhkan untuk menyukseskan Program Merdeka Belajar. Pelaksanaan program ini memungkinkan para guru menentukan sendiri metode pembelajaran yang sesuai bagi anak didiknya dan sumber daya yang mereka miliki.

“Namun kewenangan dan kebebasan ini akan percuma kalau kualitas guru tidak meningkat sehingga kesulitan dalam mengadaptasi metode belajar yang belum berubah dari sebelumnya. Saya khawatir program ini sulit memberikan kontribusi pada perbaikan kualitas pendidikan,” cetusnya.